Starbucks Coffee Testing

Karena keseringan duduk, nulis, kerja, nongkrong, dan ngopi (tentunya) di Starbucks saya jadi sering diajak ikut Coffee Testing. Dan kali ini saya ingin menceritakan pengalaman Coffee Testing saya di Starbucks di Plaza Warly. Gerai Starbucks disini baru berporesi hampir 2 bulan.
Jadi dech saya termasuk pelanggan setia.
Kali ini Barista yang akan perform adalah Elizabeth. Nah Coffee Testing ini sendiri sebetulnya dilakuin untuk Barista atau Calon Barista agar dapat "naik kelas" dan beSertifikat. Sebetulnya hanya aa di depan supervisor atau Coffee Masternya. Saya termasuk beruntung peops. Karena dah kenal semua staffnya sampe ke security dan OBnya.
Elizabeth mulai dengan menjelaskan jenis kopi yang akan digunakan, kali ini menggunakan kopi Colombia yang ditanam di daerah pegunungan Colombia. Terus dilanjutkan dengan cara pengolahan, penyimpanan, hingga tahap mencicipi kopi yang dibagi menjadi 4 tahapan. Yang pertama di Smell. Hal ini dilakukan untuk mengetahui aroma (saya sich sekalian stimulus, hehehe. Nyium aroma kopi dah langsung melek dan pengen ngopi. Kedua, dengan Sluuurrp (lupa namanya) yang pasti untuk mencoba kopi tanpa menegak langsung. Fungsinya untuk membagi rasa kopi ke bagian lidah dan bisa ngerasain panas ato ngaknya si kopi yang kita minum. Waaah ilmu saya tentang kopi bertambah. Senangnya. Padahal dulu untuk minum kopi dua sendok saya pasti langsung mules mules dot com. Hehehe.
Saat kopi testing ini durasi penyeduhan kopi benar benar harus akurat. Bahkan jumlah air pun diukur dalam gelas takar. Metodenya kali ini Pour-over. Jadi dengan gelas kaca bening saya liat bagaimana kopi yang nantinya saya minum dibuat. Wuiiih. Seru dan saya jadi decak decak kagum dalam hati. Ternyata profesi ini menjanjikan dan butuh keahlian juga.
Saat menerangkan proses pembuatan segelas kopi, tak jarang Supervisor menyela karena Elizabeth belum lengkap menjelaskannya. Saya juga ikut bertanya saking serunya mengikuti kopi testing. Sama sekali ngak ada maksud nyusahin Elizhabeth tapi bener bener pengen tahu dan penasaran.
Setelah selesai kopi dibuat tibalah saatnya kopi testing itu. Sudah ada gelas gelas kecil saya dan supervisor kemudian rekan kerja Elizhabeth. Kali ini saya prakter cara mencicipi minuman kopi. Saat smell, saya ditanya aroma apa. Untunglah hidung saya ngak bengek bengek amat. Jadi aromanya masih bisa kecium. Saat mencicipi kopinya saya ditanya seperti apa rasanya. Dan benar saja jawaban saya, kopi yang saya minum seperti ada rasa coklatnya. Hmmm. Karena ditanam di daerah pegunungan colombia yang  banyak pohon coklatnya, rasa kopi ini seperti ada rasa buahnya.
Dan saya ketagihan. Hehehe. Kalo si supervisor hanya mengecap sekali dua kali untuk tahu rasanya, saya justru ngabisin segelas kecil kopi. Efeknya berasa saat pulang. Saya benar benar melek semelekmeleknya sampe jam 4 subuh!.
Yupp itulah hasil kopi testing saya.
Dalam hati saya kepikiran kenapa gerai kopi (waralaba) ini ada hampir seluruh negara di dunia. Dari proses kopi yang dipilihpun mereka sudah tahu kualitas dan rasanya. Cara menyajikan pun sudah terstandarisasi. Bahkan para staff yang melayani yang hendak jadi barista benar benar ditraining dan harus paham dengan proses proses. Hasil iseng iseng nanya ke supervisornya saya jadi tahu bahwa setiap warna apron barista di Starbucks itu juga menunjukkan skill dan kemampuannya.
Seru kan kopi testing di Starbucks.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekali Lagi, Film jadi sarana promosi daerah sebagai tujuan Wisata

Elevate Bitung City's Gastronomy as Nominator of UNESCO Creative Cities Network to the World Level.

FPSL 4-10 Oktober 2023??